Langit selalu punya cerita.
Sejak pertama kali mengenal dunia meteorologi di bangku Diploma III Meteorologi BPLMG Jakarta (1996), rasa ingin tahu tentang bagaimana awan terbentuk, mengapa hujan turun, dan bagaimana cuaca bisa berubah begitu cepat, tidak pernah benar-benar hilang—justru semakin dalam.
Perjalanan itu kemudian berlanjut ke S1 Fisika di Universitas Cenderawasih (UNCEN) Jayapura (2007), tempat di mana fenomena alam mulai dipahami bukan hanya sebagai kejadian, tetapi sebagai proses ilmiah yang bisa dianalisis, dihitung, dan dijelaskan. Dan akhirnya, perspektif tersebut diperluas melalui S2 Geografi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta (2012)—memahami bahwa cuaca tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem bumi yang kompleks.
Saat ini, sebagai Prakirawan Cuaca, keseharian diisi dengan membaca data, menganalisis peta atmosfer, dan menerjemahkan angka-angka menjadi informasi yang bisa dipahami banyak orang. Karena pada akhirnya, prakiraan cuaca bukan hanya soal sains—tetapi tentang membantu orang mengambil keputusan.
Di sini, Anda tidak hanya akan melihat istilah teknis atau peta yang rumit, tetapi juga penjelasan yang membumi—tentang bagaimana awan berkembang, mengapa hujan bisa ekstrem, hingga bagaimana seorang prakirawan “membaca” atmosfer.
Karena di balik setiap prakiraan, selalu ada proses panjang yang menarik untuk dipahami.
Dan mungkin, setelah membaca di sini, Anda akan melihat langit dengan cara yang berbeda.
